Kamis, 20 September 2012

TEORI KOMUNIKASI - SEMESTER 2




Tradisi Sosiokultural dalam konteks Pesan, Pelaku Komunikasi, Percakapan, dan Hubungan


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi. Teori-teori tersebut mengeksplorasi dunia interaksi yang dihuni oleh manusia, menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar kita, tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas, dan budaya.

            Tradisi ini memfokuskan diri pada bentuk-bentuk interaksi antarmanusia daripada karakteristik individu atau model mental. Interaksi merupakan proses dan tempat makna, peran, peraturan, serta nilai budaya yang dijalankan. Meskipun individu memproses informasi secara kognitif, tradisi ini kurang tertarik pada komunikasi tingkat individu. Malahan, para peneliti dalam tradisi ini ingin memahami cara-cara yang di dalamnya manusia bersama-sama menciptakan realitas kelompok sosial mereka, organisasi, dan budaya. Tentu saja, kategori yang digunakan oleh individu dalam memproses informasi yang diciptakan secara sosial dalam komunikasi, berdasarkan pada tradisi sosiokultural.

            Banyak teori-teori sosiokultural juga memfokuskan pada bagaimana indentitas-identitas dibangun melalui interaksi dalam kelompok sosial dan budaya. Identitas menjadi dorongan bagi diri kita sebagai individu dalam peranan sosial, sebagai anggota komunitas, dan sebagai makhluk berbudaya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Sosiokultural dalam Konteks Pelaku Komunikasi

            Teori sosio dan kultural menunjukan bagaimana pelaku komunikasi memahami diri mereka sebagai makhluk-makhluk kesatuan dengan perbedaan-perbedaan individu dan bagaimana perbedaan tersebut tersusun secara sosial dan bukan ditentukan oleh mekanisme psikologis atau biologis yang tetap. Teori sosial kultural ada karena seseorang melakukan interaksi.

            Dengan kata lain, melalui interaksi, kita membangun pemahaman yang fleksibel, tetapi pastinya tentang diri sendiri. Pada bagian ini, kita melihat pada empat konsep yang berhubungan dengan diri sendiri yaitu 1. interaksionisme simbolis dan pembentukan sosial mengenai diri sendiri, 2. pembentukan sosial mengenai emosi, 3. pembawaan diri, 4. teori komunikasi mengenai identitas.

Interaksi Simbolis dan Pengembangan Diri

            Interaksionisme simbolis (IS) merupakan sebuah cara berfikir mengenai pikiran, diri sendiri, dan masyarakat yang telah memberi kontribusi yang besar terhadap tradisi sosiokultural dalam teori komunikasi. George Herbert Mead dianggap sebagai penggagas interaksionisme simbolis. Dengan dasar-dasar dibidang sosiologi, IS mengajarkan bahwa manusia berinteraksi satu sama lain sepanjang waktu, mereka berbagi pengertian untuk istilah-istilah dan tindakan-tindakan tertentu, dan memahami kejadian-kejadian dalam cara-cara tertentu pula.

            Sebenarnya, sebuah hasil penting dalam interaksi adalah sebuah gagasan khusus mengenai diri sendiri yaitu siapakah anda sebagai seseorang. Manford Khun dan para siswanya menempatkan diri sendiri pada pusat kehidupan sosial. Komunikasi sangat penting dari awal karena anak-anak bersosialisasi melalui interaksi dengan orang lain dalam lingkurang disekitar mereka. Proses bernegosiasi dengan dunia sekitar juga hadir melalui komunikasi, contohnya, seseorang memahami dan berhadapan dengan objek dilingkungannya melalui interaksi sosial. Sebuah objek dapat menjadi aspek apa saja dari realitas seseorang: sebuah barang, sebuah kualitas, sebuah kejadian, atau sebuah situasi. Satu-satunya syarat agar sesuatu bisa menjadi sebuah objek adalah bahwa seseorang harus memberi nama atau menghadirkannya secara simbolis. Oleh karena itu, objek-objek lebih dari sekadar hal-hal obyektif: mereka merupakan objek-objek sosial dan realitas merupakan totalitas dari objek-objek sosial seseorang.

            Pelaku komunikasi tidak hanya berinteraksi dengan orang lain dan dengan objek-objek sosial: mereka juga berkomunikasi dengan diri mereka sendiri. Para pelaku komunikasi melakukan percakapan diri sendiri sebagai dari proses interaksi: yaitu kita berbicara pada diri kita sendiri dan memiliki percakapan dalam pikiran kita untuk membedakan benda dan manusia. Ketika mengambil keputusan mengenai bagaimana bertindak terhadap suatu objek sosial, kita nenciptakan apa yang kita sebut Khun sebagai rencana tindakan yang dipandu oleh sikap atau pernyataan verbal yang menunjukan nilai-nilai terhadap tindakan apa yang akan diarahkan. Sebagi contoh, kuliah melibatkan rencana tindakan (sebenarnya sebuah kumpulan tindakan) yang dipandu oleh sebuah susunan sikap mengenai apa yang anda inginkan untuk keluar dari kampus. Sebagai contoh bagaimana anda terhubung dengan kuliah dapat dipengaruhi oleh sikap positif terhadap uang, karier, dan keberhasilan pribadi.

Pembentukan Sosial Mengenai Diri Sendiri

            Rom Harre adalah salah seorang ilmuan sosial yang telah menjadikan anggapan-anggapan ini penting bagi karya-karya mereka, yaitu inti teori ini adalah gagasan bahwa diri sendiri tersusun oleh sebuah teori pribadi yang memengaruhi bagaimana kita mendekati dunia. Bagi Harre, seseorang adalah bentuk yang dapat dilihat yang terkarakterisasi oleh sifat-sifat tertentu dan karakterisitik yang terbentuk dalam sebuah kelompok sosial atau budaya. Diri sendiri, berbeda dengan seseorang, merupakan pikiran pribadi anda mengenai kesatuan anda sebagai seseorang. Seseorang itu umum, sedangkan diri sendiri, walaupun anda mungkin berbagi dengan orang lain, sangatlah pribadi.

            Individu juga memiliki dua sisi, terdiri atas makhluk sosial (orang) dan makhluk individu (diri sendiri), yang belajar melalui sebuah sejarah interaksi dengan orang lain. Banyak kebudayaan tradisional yang menggambarkan seseorang sebagai perwujudan sebuah peran (seperti ibu, ayah, pendeta, pekerja) dan orang yang umumya dipandang sebagai manifestasi peranan tersebut. Namun, dalam peran tersebut, individu memiliki definisi atau karakter khusus atau tersendiri untuk membentuk pengertian personal tentang diri sendiri. Seseorang yang kepribadiannya terdiri dari peran seorang ayah dan pekerja mungkin memiliki pemahaman sendiri dari “seorang ayah yang baik” dan “seorang pekerja keras”.

Pembentukan Sosial Mengenai Emosi

            Kelompok teori lain dalam sudut pandang interaksionis simbolis berhadapan dengan pembentukan emosi. Sementara itu, kita biasanya tidak berfikir bahwa emosi terbentuk, tampilan emosinal, berbeda menurut kebudayaannya. Harre menyatakan, bahwa emosi emosi merupakan konsep-konsep yang tersusun, seperti aspek lain dari pengalaman manusia karena mereka ditentukan oleh bahasa lokal dan tata susunan dari moral, kebudayaan, atau kelompok sosial.

            Salah satu karya ilmiah terkemuka mengenai pembentukan sosial adalah James Averill. Menurutnya, emosi merupakan sistem kepercayaan yang memandu pemahaman seseorang menegnai situasi. Biasanya emosi terdiri dari norma-norma sosial yang dipelajari dan aturan yang mengatur perasaan. Emosi memiliki sebuah komponen psikologis, tetapi mengenali dan memahami perasaan-perasaan jasmani dipelajari secara sosial dalam sebuah kebudayaan. Dengan kata lain, kemampuan untuk memeahami emosi terbentuk secara sosial.

Pembawaan Diri

            Erving Goffman, salah satu pakar sosiologi yang terkenal menggunakan sebuah metafora dramatis, untuk menjelaskan bagaimana pelaku komunikasi menghadirkan dirinya. Susunan sehari-hari dipandang sebagai sebuah tahapan dan manusia dianggap sebagai para pemain yang menggunakan performa untuk mengesankan penonton. Ketika anda memasuki situasi apapun, maka anda menghadirkan sebuah presentasi atau performa, yaitu anda harus memutuskan bagaimana menempatkan diri, apa yang harus dikatakan, dan bagaimana anda harus bertindak.

            Goffman beranggapan, bahwa seseorang harus memahami kejadian yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Interpretasi sebuah situasi merupakan definisi dari situasi tersebut. Ketika anda memasuki sebuah situasi, anda cenderung menanyakan pertanyaan mental, “apa yang terjadi disini?” jawaban anda mendasari dari sebuah situasi tersebut.

Teori komunikasi Mengenai Identitas

            Teori-teori yang berfokus pada pelaku komunikasi akan selalu membawa identitas diri ke sejumlah tingakatan, tetapi identitas berada dalam lingkup budaya yang luas dan manusia berbeda dalam menguraikan diri mereka sendiri.

B. Teori Sosiokultural dalam Konteks Pesan

            Tradisi semoitika dalam teori komunikasi sangat membantu dalam susunan komponen dan pengaturan dari sebuah pesan, tetapi komunikasi adalah sebuah hal yang besar, lebih dari struktur sebuah pesan. Penting juga untuk kita mempertanyakan apa yang kita lakukan dengan kata-kata dan kode-kode non verbal. Untuk menajwab pertanyaan ini, kita sekarang kita bergerak ke tradisi sosial budaya. Tradisi ini menjauhkan kita dari perbedaan individu dan pengolahan kesadaran terhadap hubungan sosial, kelompok dan makna yang dihasilkan melalui interaksi. Disini kita kana melihat teori aksi berbicara, identifikasi, bahasa, dan gender.

Teori Aksi Berbicara

            Jika anda membuat sebuah janji, maka anda menyampaikan sebuah niat tentang sesuatu yang anda lakukan dimasa depan dan menghrapkan pelaku komunikasi lain sadar terhadap apa yang anda katakan dari niat anda. Anda berasumsi bahwa orang lain tahu makna dari kata-kata anda. Mengethui kata-kata tidaklah cukup, mengetahui niat anda untuk menyelesaikannya dengan menggunakan kata-kata adalah vital, teori kemampuan berbicara yang kebanyakan dihubungkan dengan John Searle dirancang untuk membantu kita memahami bagaimana manusia menyempurnakan hal dengan kata-katanya.

            Makna dari aksi berbicara adalah kekuatan mempengaruhi. Sebagai contoh, pernyataan “saya lapar“, dapat dianggap sebagai sebuah permintaan jika pembicara bermaksud supaya pendengar menawarkan makanan. Di sisi lain, hal ini dianggap sebagai sebuah penawaran, jika pembicara bermaksud untuk mengatakan bahwa ia akan mulai membuat makan malam; atau mungkin secara sederhana memiliki kekuatan memengaruhi dari sebuah rancangan pernyataan yang hanya untuk menyampaikan informasi dan tidak lebih. Menurut Searle, kita tahu maksud di balik sebuah pesan tertentu karena kita berbagi permainan bahsa sederhana yang terdiri dari sejumlah aturan yang membantu kita untuk mendefinisikan kekuatan memengaruhi dari sebuah pesan.
           
            Dalam aksi berbicara, aturan pokok memberitahu anda apa yang harus ditafsirkan seperti sebuah janji yang berlawanan dengan sebuah permintaan atau sebuah perintah. Maksud anda sangatlah dimengerti oleh orang lain karena aturan pokok; mereka memberitahu orang lain apa yang diharapkan dari seuah aksi berbicara seperti itu.

            Untuk meminta keluarganya datang ke meja untuk makan malam, seorang ayah mungkin berkata, “Ada yang Lapar?” nampaknya ini adalah sebuah pernyataan, tetapi dalam keadaan sebenarnya, hal ini adalah permintaan secara tidak langsung dan bahkan dapat juga menjadi sebuah perintah.

Teori aksi berbicara mengidentifikasi apa yang terjadi untuk membuat pernyataan yang berhasil, supaya maksud dapat dipahami.

Teori Identifikasi Kenneth Burke
 Menurut Micheal Hecht dan Koleganya, teori komunikasi tentang identitas tergabunglah 3 Konteks budaya yaitu individu, Komunal dan publik. Identitas merupakan penghubung utama antara individu dan masyarakat, serta komunikasi merupakan mata rantai yang memperoleh hubungan ini terjadi. Identitas anda adalah “Kode” yang mengidentifikasi keanggotaan anda dalam komunitas yang beragam. Kode-kode tersebut terdiri dari simbol-simbol seperti bentuk pakaian, kata-kata seperti benda yang biasanya anda katakan.
Hecht memperkenalkan dimensi-dimensi identitas khusus yaitu:
1.      Perasaan (dimensi afektif)
2.      Pemikiran (dimensi kognitif)
3.      Tindakan (dimensi perilaku)
4.      Transender (spiritual)

            Komunikasi merupakan alat untuk membentuk identitas dan juga mengubah mekanisme dentitas anda, baik dalam pandang diri anda maupun orang lain, dibentuk ketika anda secara sosial berinteraksi dengan orang lain di kehidupan anda.“Subjective Dimension” akan identitas merupakan perasaan diri pribadi anda.
“Ascibed Dimension” adalah apa yang orang lain katakan tentang anda.

            Ada 4 tingkatan dalam berinteraksi:
1.      Personal Layer : rasa akan keberadaan diri anda dalam situasi sosial.
2.      Enactment Layer : pengetahuan orang lain tentang diri anda berdasarkan pada
apa yang anda lakukan, apa yang anda miliki, dan bagaimana
anda bertindak.
3.      Relational : siapa diri anda dalam kaitannya dengan individu lain.
4.      Communal : diikat pada kelompok atau budaya yang lebih besar.
Bahasa dan Gender
Cheris Kramarae (dalam Sendjaja:1994) mengemukakan asumsi-asumsi dasar dari teori ini sebagai berikut:
  • Perempuan menanggapi dunia secara berbeda dari laki-laki karena pengalaman dan aktivitasnya berbeda yang berakar pada pembagian kerja.
  • Karena dominasi politiknya, sistem persepsi laki-laki menjadi lebih dominan, menghambat ekspresi bebas bagi pemikiran alternatif perempuan.
  • Untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, perempuan harus mengubah perspektif mereka ke dalam sistem ekspresi yang dapat diterima laki-laki.
Kramarae mengemukakan sejumlah hipotesis mengenai komunikasi perempuan berdasarkan beberapa temuan penelitian.
a.       Perempuan lebih banyak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri dibanding laki-laki.
b.       Perempuan lebih mudah memahami makna laki-laki daripada laki-laki memahami makna perempuan.
c.       Perempuan telah menciptakan cara-cara ekspresinya sendiri di luar sistem laki-laki yang dominan.
d.      Perempuan cenderung untuk mengekspresikan lebih banyak ketidakpuasan tentang komunikasi dibanding laki-laki.
e.       Perempuan seringkali berusaha untuk mengubah aturan-aturan komunikasi yang dominan dalam rangka menghindari atau menentang aturan-aturan konvensional.
f.       Secara tradisional perempuan kurang menghasilkan kata-kata baru yang populer dalam masyarakat luas; konsekuensinya, mereka merasa tidak dianggap memiliki kontribusi terhadap bahasa.
g.      Perempuan memiliki konsepsi humoris yang berbeda dari pada laki-laki.

C. Tradisi Sosiokultural dalam Konteks Percakapan

            Pada teori-teori sosiokultural tentang percakapan membawa kita ke arah yang sangat berbeda dari karya yang dijelaskan dalam bagian sebelumnyaa. Disini, kita bertemu dengan penjelasan-penjelasan dari pemahaman apa yang dibuat atau dibangun dalam percakapan, bagaimana makna muncul dalam percakapan, dan bagaimana simbol-simbol diartikan melalui interaksi. Teori-teori ini memberitahu kita tentang tema percakapanapa yang menyatukan manusia dan bagaimana pelaku percakapan berbagi makna, dan juga berfokus pada bagaimana pelaku komunikasi bekerjasama dalam sebuah cara yang tersususn untuk mengatur pembicaraan mereka. Ada empat area yang dicakup yaitu interaksionisme simbolis, teori pemusatan simbolis, analisis percakapan, dan teori perundinga rupa.

Interaksionisme simbolis
Teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri (self) dan dunia luarnya. Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Teori interaksionisme simbolik ini akan mengarahkan perhatian kita pada konsep mengenai “ interaksi “, baik interaksi dengan diri sendiri (self-interaction) maupun interaksi antar individu.
Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami budaya lewat perilaku manusia yang terpantul dalam komunikasi. Interaksi simbolik lebih menekankan pada makna interaksi budaya sebuah komunitas. Makna esensial akan tercermin melalui komunikasi budaya antar warga setempat. Pada saat berkomunikasi jelas banyak menampilkan simbol yang bermakna, karenanya tugas peneliti menemukan makna tersebut.
Teori ini dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh penggagas George H. Mead dan tokoh pengikutnya yaitu Herbert Blummer. Istilah yang dipakai George H. Mead untuk bagian “ kedirian “ (self) yang merupakan sebuah internalisasi sikap-sikap orang-orang lain terhadap diri kita sendiri dan peran-peran kita. Kata “ Interaksionisme Simbolis “ sendiri diciptakan oleh seorang murid Mead yaitu Herbert Blummer, pada tahun 1937. Kata interaksionalisme simbolik itu dimaksudkan untuk mencakup pemahaman timbal-balik dan penafsiran isyarat-isyarat dan percakapan merupakan kunci bagi masyarakat manusia. Selain Mead dan Blummer, tokoh lain yang juga memberikan kontribusi intelektualnya adalah Charles Horton Cooley.

Teori Pemusatan Simbolis

            Teori pemusatan simbolis juga sering dikenal dengan nama analisis bertemakan fantasi ( fantasy theme analysis ) adalah sebuah teori yang dikembangkan dengan sangat baik oleh ernest bormann, john cragan dan donald shield, serta berhubungan dengan pengunaan gaya bercerita dalam komunikasi. Titik awal teori ini adalah bahwa gambaran individu tentang realitas di tuntun oleh cerita-cerita yang menggambarkan bagaimana segala sesuatu diyakini ada. Cerita-cerita atau tema-tema fantasi ini di ciptakan dalam interaksi simbolis dalam kelompok – kelompok kecil serta mereka berpindah dari satu orang ke orang lain dan dari satu kelpmpok ke kelompok yang lain untuk berbagi sebuah pandangan tentang dunia.
Tema- tema fantasi yang berkembang menjadi keakraban tingkat tinggi dikenal dengan jenis- jenis fantasi situasi yang selalu di ceritakan dalam sebuah kelompok. Sering kali penceritaan ulang ini berhubungan dengan pencapaian pribadi, kelompok atau komunitas dan mengambil bentuk sebuah hikayat. Anda mungkin memiliki hikayat dalam keluarga dan organisasi kerja anda tentunya telah mendengar banyak hikayat nasional dan bermasyarakat, seperti george wasington dan pohon cherry, mengapa john hancock menandatangani Declaration of independence dengan tulisan tangan yang besar, dan bahkan cerita tentang naiknya bioll gates.
Teori pemusatan simbolis muncul dari penelitian kelompok kecil saya di university of minnesota. Pada model teori-teori newton tentang ilmu pengetahuan alam yang di dalamnya teori ini telah terbuktimenjadi kasusnya ketika teori terus berhasil di seluruh dunia selama bertahun tahun dan terus berkembangsebagai sebuah teori penelitian. Ernest g. Bornann.
Ketika manusia dapat berbagi tema-tema fantasi, pandangan retorika menyatukan mereka dan memberikan pemahaman tentang identifikasi dengan menggunakan sebuah realitas. Dalam proses ini, manusia bertemu atau memegang sebuah gambaran umum ketika mereka berbagi tema – tema fantasi mereka.
Sebenarnya, pandangan rekotika yang di bagi – dan khususnya penggunaan jenis – jenis fantasi- dapat di anggap sebagai bukti bahwa telah terjadi pertemuan .
Ketika pandangan – pandangan retorika dibuat melalui pembagian tema- tema fantasi dalam sebuah kelompok, mereka memenuhi sebuah fungsi penciptaan kesadaran. Mereka membuat orang-prang menyadari cara-cara tertentu dalam memahami segala sesusatu.
            Dengan kata lain,, mereka membangun atau mempertahan kan kesadaran bersama sebuah kelompok atau komunitas. Sepertinya, ada banyak kritik tentang kesetiaan dimana terjadi penyebaran pandangan memenuhi fungsi pendukung kesadaran (consciousness sustaining ). Disini, tema-tema fantasi hadir untuk mempertahankan komitmen. Dalam sebuah perusahaan, kesadaran bersama atau pandangan retorika yang luas. Setelah hal ini terjadi, pandangan retorika mulai retorika dapat melahirkan kesetiaan, kebanggaan, dan komitmen. Anda menggunakan pandangan rekotika dan ini berarti anda mengambil tema , nilai, serta tujuan yang tersembunyi didalamnya.
D. Tradisi Sosiokultural dalam Konteks Hubungan

Teori Pengelolaan Identitas

Teori ini membantu kita melihat bagaimana hubungan dapat memperoleh identitasnya melalui komunikasi. Teori pengelolaan identitas ini juga menunjukan bagaimana identitas terbentuk, terjaga, dan berubah dalam hubungan. Teori pengelolaan identitas ini banyak menjelaskan tentang hubungan dimana perbedaan budaya sangat penting dan jelas.
Teori Dialogis/Dialektis Pada Hubungan

Teori ini membahas bahwa suatu hubungan menggabungkan sebuah campuran dari beragam “suara” yang menarik dan mendorong hubungan itu terus-menerus. Teori ini memperkenalkan kita pada banyak faktor dan kekuatan yang berkaitan dengan identitas hubungan.

Analisis Percakapan

Analisis percakapan atau Conversations Analysis (CA), yang merupakan bagian dari ilmu sosiologi, yang juga dinamakan ethnomethodology, yaitu studi terperinci bagaimana manusia mengatur atau mengelola kehidupan mereka sehari-hari.

Percakapan adalah bentuk kegiatan yang paling mendasar yang dilakukan oleh manusia untuk menjalin hubungan antara satu dengan yang lain. Dengan melakukan percakapan, manusia dapat saling mengungkapkan pikiran dan perasaanya, dan juga, dapat saling bertukar informasi untuk memenuhi kebutuhannya.

Pada dasarnya percakapan adalah manifestasi penggunaan bahasa untuk berinteraksi. berpendapat bahwa wujud penggunaan bahasa tersebut dapat dilihat dari dua aspek. Aspek pertama adalah isi, yaitu aspek yang memperhatikan hal-hal seperti topik apa yang didiskusikan dalam percakapan; bagaimana topik disampaikan dalam percakapan: apakah secara eksplisit, melalui presuposisi, atau diimplisitkan dengan berbagai macam cara; jenis topik apa yang mengarah pada topik lain dan apa alasan yang melatarbelakangi hal semacam ini terjadi, dsb. Selain itu, fokus lain dari aspek ini adalah organisasi topik dalam percakapan dan bagaimana topik dikelola, baik disampaikan dengan cara terbuka maupun dengan manipulasi secara tertutup: biasanya dalam bentuk tindak ujar taklangsung. Kedua adalah aspek formal percakapan. Fokus utama dalam aspek ini adalah hal-hal seperti bagaimana percakapan bekerja; aturan-aturan apa yang dipatuhi; dan bagaimana sequencing ‘keberurutan’ dapat dicapai (memberikan dan memperoleh giliran atau mekanisme turn-taking, jeda, interupsi, overlap, dll.).

Mereka menganalisis percakapan alami melalui data-data yang mereka rekam dan transkripsikan. Bagi mereka mentranskripsikan percakapan bukan hanya sekedar memberikan nuansa fonetis untuk mendeskripsikan dan mengklasifikasikan fonem dan variasinya, tetapi sebagai teknik yang mampu membantu mengidentifikasi cara-cara orang membangun ‘aturan lalu lintas’ dalam berbicara menggunakan perangkat bahasa. Hal ini berarti bahwa dengan teknik transkripsi, aturan-aturan yang membentuk struktur dan organisasi percakapan dapat diidentifikasi. Aturan-aturan ini penting untuk dipelajari karena dengan memahami aturan-aturan tersebut diharapkan proses produksi verbal partisipan percakapan dapat berjalam lancar atau tidak mengalami hambatan. Dari hasil kerja para ahli analisis percakapan ini, terdapat beberapa temuan yang mendasar. Salah satunya adalah mekanisme turn-taking.

Teori analisis percakapan memfokuskan perhatiannya pada interaksi dalam percakapan seperti berbagai gerakan oleh komunikator dan bagaimana mereka mengelola dan mengatur urutan pembicaraan sebagaimana yang terlihat jelas pada perilakunya.

MERAMALKAN

Percakapan dipandang sebagai suatu keberhasilan atau prestasi sosial karena percakapan mensyarakatkan peserta percakapan untuk menyelesaikan sejumlah hal tertentu yang dilakukan secara kooperatif (bekerja sama) sepanjang percakapan berlangsung, analisis percakapan berupaya untuk menemukan secara terperinci dan tepat apa saja keberhasilan yang telah dicapai itu dengan menguji secara hati-hati berbagai catatan (transkrip) percakapan.

Analisis percakapan, karenanya, dicirikan oleh pengamat secara hati-hati terhadap urutan pembicaraan yang sebenarnya, dalam hal ini, peneliti Analisis percakapan harus memperhatikan setiap bagian percakapan, setiap tindakan yang dilakukan dalam percakapan, dan meneliti apa yang tampaknya dilakukan pembicara ketika mereka berkomunikasi. Peserta percakapan percakapan melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan seperti mengajukan dan menjawab pertanyaan, mengatur giliran bicara dan kegiatan melindungi wajah. Hal terpenting adalah mengetahui bagaimana segala hal tersebut dilakukan dengan menggunakan bahasa. Perangkat dan bentuk interaksi seperti apa yang digunakan para pihak untuk menghasilkan tindakan.

Analisis percakapan fokus pada apa yang terjadi dalam bahasa, pada teks atau percakapan. Analisis percakapan memfokuskan perhatiannya pada interksi dalam percakapan seperti berbagai gerkan oleh komunikator dan bagaimana mereka mengelola dan mengatur urutan pembicaraan sebagaimana yang terlihat jelas pada perilkunya.

Hal paling penting dalam analis percakapan adalah pada cara-cara bagaimana komunikator menciptakan stabilitas dan membangun organisasi percakapan mereka. Walaupun tampak luar percakapan seperti asal-asalan, namun sebenarnya tetap terdapat organisasi dan keutuhan pembicaraan yang dibangun oleh para peserta selama percakapan berlangsung. Para analis percakapan bekerja secara induktif, yaitu dengan pertam, meneliti detail dari berbagai percakapan yang sebenarnya dan selanjutnya melakukan generalisasi yang menghasilkan prinsip atau dasar-dasar yang digunakan pembicara untuk mengatur atau mengorganisir pembicaraan mereka.

Analisis percakapan memberikan perhatian pada beberapa topik, pertama, terkait dengan apa yang ingin diketahui pembicara untuk melakukan percakapan, yaitu mengetahui aturan percakapan. Berbagai fitur percakapan seperti giliran bicara, hening (silence) dan jeda (gap) dan keadaan tumpang tindig (overlaps) pecakapan telah menjadi perhatian khusu analisis percakapan. Analisis percakapan ini juga memberikan perhatian pada pelanggaran aturan dan cara-cara orang mencegah dan memperbaiki kesalahan bicara.

Apek percakapan yang paling populer, dan mungkin yang paling signifikan adalah mengenai percakapan yang koheren yang memeiliki defenisi sederhana, suatu percakapan yang koheren akan tampak terstruktur dengan baik dan masuk akal bagi peserta bicara. Sifat percakapan yang koheren biasanya menjadi suatu yang diterima begitu saja (taken for granted), tetapi untuk menghasilkan percakapan yang koheren merupakan hal yang kompleks dan tidak serta merta dimengerti.


PANDANGAN

1.  MASA LALU
Bila dilihat dari sudut pandang historis, analisis percakapan muncul di tengah-tengah kebingungan teoretis setelah munculnya revolusi linguistik yang digagas oleh Chomsky di akhir tahun 50an dan di awal tahun 60an. Analisis percakapan ini diprakarsai oleh sekelompok orang pemerhati bahasa nonprofesional (para sosiolog seperti Sacks, Schegloff, dan Jefferson). Mereka melihat bahwa contoh-contoh bahasa yang diberikan oleh para linguis profesional seringkali tidak alami, bahkan sebagian dari contoh-contoh ujaran tersebut tidak muncul dalam percakapan yang alamiah. Kemudian, mereka pun menemukan bahwa aturan-aturan yang dipatuhi dalam percakapan lebih mirip dengan aturan-aturan yang dipakai masyarakat dalam aktivitas sosial daripada dengan aturan-aturan yang terdapat dalam linguistik. Aturan-aturan tersebut pun hampir sama dengan aturan yang ditemui oleh para peneliti dari bidang sosiologi dan antropologi. Oleh karena itu, kemudian munculah metode ethnomethodology yang digunakan untuk mengkajian percakapan. Topik yang menjadi pusat perhatian para ahli analisis percakapan tersebut adalah organisasi dan struktur percakapan.

Pada awalnya teori memandang manusia dalam berbicara tidak memiliki sifat koheren.

2.  MASA SEKARANG
Teori analisis percakapan menuntut peserta memerhatikan proses interaksi dalam percakapan sehingga terwujudnya percapakan yang koheren.

3.  MASA DEPAN
Dengan semakin kompleknya kehidupan manusia dan semakin tingginya interaksi manusia, maka teori analisis percakapan sangat dibutuhkan guna mencapai sebuah tujuan yang jelas dalam berkomunikasi. Dan dengan menggunakan teori ini dapat dipastikan sifat koheren dalam percakapan dan bisa terwujudnya komunikasi yang efektif.

STRATEGI

Ada beberapa hal yang diperhatikan dalam mewujudkan percakapan yang koheren sehingga proses komunikasi bisa berjalan efektif.

Pertama sekali adalah prinsip kerja sama yang menuntut peserta percakapan memberikan kontribusinya kepada percakapan secara patut. Kerja sama dalam percakapan dapat dicapai melalui empat aturan, yaitu:

1.    Perkataan berkuantitas
2.    Perkataan berkualitas
3.    Perkataan relevan
4.    Perkataan berprilaku

Kedua, percakapan yang koheren dapat dicapai dengan cara memastikan bahwa setiap tindakan adalah hasil tanggapan yang sesuai dengan tindakan sebelumnya.

Ketiga, peserta percakapan harus menyadari bahwa percakapan merupakan tindakan praktis untuk mencapai tujuan percakapan. Terjadinya percakapan yang koheren bergantung pada proses berpikir secara hati-hati pada pihak komunikator untuk mencapai suatu tujuan.

Keempat, mengelola perbedaan pendapat sehingga perbedaan dapat dikurangi dan kesepatan dapat tercapai secepat mungkin.

Teori Dialogis Bakhtin

Teori ini menelusuri tekanan yang diakibatkan oleh kekuatan yang tidak sesuai dalam hubungan. Bakhtin penting dalam memberikan pandangan tentang hubungan :

1.      Antara dua individu sebagai sebuah pembukaan potensi yang mungkin tidak pernah disadari
2.      Antara kebudayaan juga.


Teori Baxter Tentang Hubungan

Dalam teori ini ada beberapa pandangan untuk proses dilog hubungan ini :

1.      Dalam pandangan pertama dari teori Baxter ini adalah hubungan dihasilkan melalui dialog.
2.       Pandangan kedua dari Baxter adalah dialog menghasilkan sebuah kesempatan untuk mencapai sebuah persatuan dalam perbedaan.
3.      Pandangan yang ketiga adalah stabilitas perubahan atau tekanan antara dapat diduga dan konsisten melawan spontan dan berbeda.
4.      Pandangan Baxter yang keempat mengacu pada gagasan bahwa praktik dan estetika bukanlah sesuatu yang langsung ada, tetapi diciptakan atau dibuat dalam komunikasi.

Pengaturan Privasi Komunikasi

Teori ini membahas tekanan antara keterbukaan dan rahasia pribadi, antara sesuatu yang “bersifat publik” dan “rahasia”dalam hubungan.


BAB III
KESIMPULAN

            Tradisi sosiokultural mengkaji teori komunikasi tentang pemahaman, makna, norma, aturan yang terjadi diluar interaksi komunikasi. Tradisi ini fokus pada interaksi antar individu daripada karakteristik individu. Interaksi merupakan proses dimana makna, aturan dan nilai budaya bekerja.selain itu dalam tradisi ini juga menjelaskan bahwa individu dapat dipengaruhi oleh sistem sosial dan budaya yang ada dalam suatu masyrakat.
            Pada konteks Pelaku komunikasi menyangkut Tradisi Sosiokultural yaitu Interaksi Simbolis dan pengembangan diri, gagasan Harre’ mengenai seseorang dan diri sendiri, Pembentukan sosial mengenai Emosi, Pembawaan diri, Teori Komunikasi tentang identitas, teori Negosiasi Identitas.
Pada konteks Pesan, menyangkut Tradisi Sosiokultural yaitu Teori aksi berbicara, teori identifikasi Kenneth Burke, bahasa dan gender.
Percakapan konteks Tradisi Sosiokultural menyangkut tradisi sosiokultural yaitu Interaksionisme simbolis, Teori Pemusatan simbolis yang juga disebut Symbolic-Convergence Theory, Analisis Percakapan, Teori Negosiasi Rupa yang disebut juga Face – Negotiation Theory.
Dan terakhir pada konteks Hubungan menyangkut Tradisi Sosiokultural yaitu Teori Pengelolaan Identitas, Teori Dialogis/Dialektis pada Hubungan, Pengaturan Privasi Komunikasi.

          

DAFTAR PUSTAKA
·         W. Littlejohn, Stephen. Theories Of Human Communication. Salemba Humanika. 2009.
REFERENSI



TEORI KOMUNIKASI - SEMESTER2


Tradisi SosioPsikologi
“Model Penyusunan Pesan”

TRADISI SOSIOPSOKOLOGIS
            Teori-teori ini memandang pilihan individu dan strategi untuk meraih tujuan dari sebuah pesan. Sosiopsikologi memandang individu sebagai makhluk sosial. Tradisi Sosiopsikologi memberikan perhatiannya antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat. Teori-teori yang berangkat dari psikologi sosial ini juga dapat menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusia dalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia dalam proses menghasilkan pesan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses menggunakan simbol. Demikian pula dalam proses memahami pesan yang diterima, manusia juga menggunakan proses psikologis seperti berpikir, memahami, menggunakan ingatan jangka pendek dan panjang hingga membuat suatu pemaknaan. Pendekatan psikologi sosial memberi perhatian terhadap aspek diri manusia.
            Tradisi ini mewakili perspektif objektif/scientific. Penganut tradisi ini percaya bahwa kebenaran komunikasi bisa ditemukan melalui pengamatan yang teliti dan sistematis. Tradisi ini mencari hubungan sebab-akibat yang dapat memprediksi kapan sebuah perilaku komunikasi akan berhasil dan kapan akan gagal. Adapun indikator keberhasilan dan kegagalan komunikasi terletak pada ada tidaknya perubahan yang terjadi pada pelaku komunikasi. Semua itu dapat diketahui melalui serangkaian eksperimen.
Efek utama yang diukur adalah perubahan pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk skala sikap baik sebelum maupun sesudah menerima pesan. Dalam hal ini kredibilitas sumber amat sangat menarik perhatian.

MODEL PENYUSUNAN PESAN
            Teori tentang penyusunan pesan menggambarkan sebuah skenario yang lebih kompleks dimana pelaku komunikasi benar-benar menyusun pesan yang sesuai dengan maksud-maksud mereka dalam situasi yang mereka hadapi. Disini, kita melihat pada tiga teori pada tradisi ini.
Ada 2 model dalam penyusunan pesan, yakni penyusunan pesan yang bersifat informatif dan penyusunan bersifat persuasif.
1.Penyusunan pesan bersifat informatif
Model penyusunan pesan yang bersifat informatif lebih banyak ditujukan pada perluasan wawasan dan kesadaran khalayak. Prosesnya lebih banyak bersifat difusi, sederhana, jelas dan tidak banyak menggunakan jargon yang kurang populer di kalangan masyarakat.
Ada 4 macam penyusunan pesan bersifat informatif:
1. Space Order
Penyusunan pesan yang melihat kondisi tempat atau ruang, seperti: Internasional, Nasional dan Daerah.
2. Time Order
Penyusunan pesan berdasarkan waktu atau periode yang disusun secara kronologis.
3. Deductive Order
Penyusunan pesan mulai dari hal-hal yang bersifat umum kepada yang khusus, misalnya: Penyusunan GBHN
4. Inductive Order
Kebalikan dari Deductive Order, Penyusunan pesan yang dimulai dari hal-hal khusus kepada yang bersifat umum.
Model penyusunan pesan informatif biasanya banyak dilakukan dalam penulisan berita dan artikel oleh para wartawan dengan memakai model piramida terbalik. Dalam penulisan berita model straight news, penyampaian pesan bergerak dari yang sangat penting kepada yang kurang penting dengan menjawab 5W+1H.

2. Penyusunan pesan bersifat persuasif
Model penyusunan pesan yang bersifat persuasif memiliki tujuan untuk mengubah persepsi, sikap dan pendapat khalayak. Oleh karena itu penyusunan pesan yang bersifat persuasif mrmiliki sebuah proposisi..
Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam penyusunan pesan yang memakai teknik persuasi, antara lain:
a. Fear Appeal
Metode penyusunan atau penyampaian pesan dengan menimbulkan rasa ketakutan pada khalayak
b. Emotional Appeal
Cara penyusunan atau penyampaian pesan dengan berusaha menggugah emosional khalayak. Bentuk lain dari emotional appeal ialah propoganda.
c. Reward Appeal
Cara penyusunan atau penyampaian pesan dengan menawarkan janji-janji pada khalayak.
d. Motivational Appeal
Teknik penyusunan atau penyampaian pesan yang dibuat bukan karena janji-janji, tetapi disusun untuk menumbuhkan internal psikologis khalayak sehingga mereka dapat mengikuti pesan-pesan itu.
e. Humorious Appeal
Teknik penyusunan atau penyampaian pesan yang disertai dengan gaya humor, sehingga dalam penerimaan pesan khalayak tidak merasa jenuh.

TEORI PERENCANAAN
Teori perencanaan dikembangkan sebagai jawaban atas gagasan bahwa komunikasi merupakan proses mencapai tujuan. Manusia tidak terlibat dalam kegiatan komunikasi hanya karena mereka memang melakukannya; mereka berkomunikasi untuk memenuhi tujuan. Rencana-rencana kognitif memberikan panduan yang penting dalam menyusun dan menyebarkan pesan-pesan untuk mencapai tujuan. Rencana pesan yang canggung memungkinkan pelaku komunikasi mencapai tujuan mereka dengan lebih banyak dan lebih efisien; sehingga kompetensi komunikasi sangat bergantung pada kualitas rencana pesan individu. ( Charles R. Berger )
Oleh karena itu, perencanaan adalah proses rencana-rencana tindakan. Perencanaan pesan merupakan perhatian utama karena komunikasi sangat penting dalam meraih tujuan.
LOGIKA PENYUSUNAN PESAN
O’keefe menggarisbawahi tiga logika penyusunan pesan yang mungkin mencakup dari orang yang kurang memusatkan diri hingga orang yang paling memusatkan diri.
1.      Logika ekspresif, adalah komunikasi untuk pengungkapan perasaan dan pemikiran sendiri.
2.      Logika konvensional ( rhetorical logic ), memandang komuniksai sebagai sebuah permainan yang dimainkan dengan peraturan berikut. Logika retoris, memandang komunikasi sebagai cara perubahan aturan melalui negosiasi.
Konsep dari Modul Penyusunan Pesan
1.      Konsepnya adalah sebelum kita berkomunikasi kepada orang lain, kita harus mengerti dan memahami secara konperhensif apa yang ingin kita sampaikan.
2.      Serta dari teori-teori yang dibahas dalam bagian ini memberitahu kita bagaimana pesan terbentuk, tetapi tidak banyak mengatakan bagaimana pesan diterima atau diapahami.
Contoh Kasus Teori Perencanaan:
Contoh kasus pertama saya ambil dari seorang Dinda Ayu Ts :
Cerita ini bermula saat dinda ingin memberikan surprise ulang tahun kepada kekasihnya, surprise ini sudah direncanakan oleh dinda sudah sejak lama, yaitu dia ingin mengucapkan ulang tahun tepat pukul 12 malam. Sehari sebelum ulang tahun dia sudah membelikan kado dan kue tanpa sepengetahuan kekasihnya. Pada malam menjelang ulang tahun, dinda berkata bahwa dia ingin tidur, padahal dia sedang berada dirumah saudara kekasihnya yang lokasinya tidak jauh dari rumah kekasih dinda. Namun, saat dinda masuk lewat pintu belakang, ternyata kekasihnya yang mengejutkan dinda. Dinda yang sudah berusaha memberikan kejutan ternyata menjadi sia-sia karena kekasihnya sudah mengetahui semua rencananya dinda.